|
PELITA Vol.
181 26 Jul - 1 Austus '10
|
BERSEKUTU DENGAN ORANG KRISTEN LAIN
Manusia adalah mahkluk sosial. Pernyataan ini mengandung makna bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Setiap kita hidup membutuhkan orang lain. Dalam hidup berjemaat, ini bukan hanya merupakan suatu konsep. Akan tetapi, inilah yang harus nyata di dalam hidup orang percaya. Relasi kita dengan Tuhan harus nampak di dalam relasi kita dengan sesama. Artinya, kasih Tuhan yang kita rasakan, harus juga dinyatakan dalam kasih kita kepada sesama. Inilah esensi dari persekutuan Kristen. Sebagai satu tubuh Kristus, kita berfungsi untuk membangun kerajaan-Nya di tengah-tengah dunia ini. Kita dapat mengerjakan bagian kita masing-masing, tetapi di dalamnya kita hidup saling menguatkan dan meneguhkan iman satu dengan yang lain. Ini adalah salah satu langkah kongkrit dalam hal bersekutu dengan orang Kristen lain. Kiranya Pelita edisi ini dapat mendorong kita untuk hidup di dalam satu persekutuan yang indah dengan sesama umat yang percaya. Tuhan akan senantiasa menolong dan memberkati kehidupan kita.
“Our love to God is measured by our everyday fellowship with others and the love it displays." Andrew Murray
Nehemia 2:17-20
M1 (MENERIMA) Berdoalah mohon Tuhan menolong agar kita memiliki hati yang senantiasa berpaut pada Tuhan sehingga kita dapat mengerti semua rencana-Nya bagi kita.
M2 (MERENUNGKAN) 1. Mengapa Nehemia menyerukan untuk membangun kembali tembok Yerusalem? (17) 2. Bagaimana respon orang-orang, ketika mereka mendengar kesaksian Nehemia? (18) 3. Apakah yang dikatakan oleh kelompok yang tidak turut serta? (19) 4. Apakah jawaban Nehemia terhadap mereka? (20)
Pengajaran Nehemia melayani sebagai juru minum Artahsasta I ketika ia menerima kabar bahwa orang buangan yang kembali ke Yehuda dari babel dan Persia sedang dalam kesulitan dan tembok Yerusalem masih berupa puing. Nehemia berdoa agar Allah menolong supaya ia mendapat belas kasihan dari raja demi orang Yahudi. Desakan hati pertama yang muncul dalam diri Nehemia ialah berdoa. Sebelum menjawab pertanyaan raja, ia memanjatkan doa kepada Allah memohon pertolongan dan hikmat. Ketika Nehemia berdoa, Nehemia berdiri di hadapan raja dan hanya memiliki sedikit waktu untuk berseru kepada Allah di dalam hatinya. Doa singkat Nehemia menyentuh hati Allah, karena telah didahului dengan empat bulan berdoa dan berpuasa dengan tekun. Setelah mendoakan keadaan Yerusalem, Nehemia diberi kuasa oleh Raja Artahsasta untuk pergi ke Yerusalem sebagai gubernur dan membangun kembali tembok-tembok kota. Sekalipun Nehemia tiba sebagai gubernur dengan kekuasaan penuh dari pemerintah kerajaan Persia, ia tidak melakukan apa-apa selama tiga hari dan tidak menceritakan rencana-rencana Allah yang diterimanya. Dan dapat dipastikan bahwa ia menantikan Allah, dan tidak tergesa-gesa dengan mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia mengadakan survei yang cermat mengenai kerusakan tembok-tembok oleh orang Samaria. Selaku pemimpin yang diilhami, ia mengerahkan orang-orang sebangsanya untuk membangun kembali seluruh tembok kota dengan terlebih dahulu memberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allah yang melindunginya, sehingga rajapun mendukungnya. Orang-orang ini tergerak dan siap untuk membangun dan mereka dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu. Dalam 52 hari saja sekalipun terjadi pertentangan yang gigih. Ketika Nehemia membangun, ada sekelompok orang yang mengolok-ngolok dan menghina mereka dengan mengatakan apa yang kamu lakukan itu? Apakah kalian mau berontak kepada raja? Renungan hari ini mengingatkan kita, dalam segala perkara kita harus terlebih dahulu datang kepada Allah. Apabila kita menginginkan sesuatu dari orang lain, kita harus terlebih dahulu menyampaikan keinginan kita kepada Allah. Maka Allah dapat menggerakkan hati dan pikiran orang itu untuk melaksanakan kehendak-Nya. Kebiasaan untuk berdoa secara berkala sepanjang hari akan membuka saluran kasih karunia, pertolongan, dan hikmat Allah yang lebih besar ke dalam hidup kita. Melupakan ketergantungan kita kepada Allah akan membatasi pekerjaan Roh Kudus di dalam hidup kita. Olokan dan cemoohan sering kali dialami anak-anak Allah yang setia dan hidup dalam kebenaran. Dunia seringkali membenci standar moral anak-anak Tuhan. Keyakinan dan jawaban kita hendaknya sama dengan yang diberikan oleh Nehemia – Allah di sorga akan menolong kita dan pada akhirnya membenarkan orang benar.
M3 (MELAKUKAN) Buatlah sebuah tekad, apakah yang dapat kita sumbangsihkan kepada Tuhan lewat pembelian tanah di jln. Pungkur no. 105.
M4 (MEMBAGIKAN) Bagikan berkat dari firman Tuhan hari ini kepada keluarga dan teman komsel.
Ayat hafalan: ”Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” Ibrani 10:24
Bacaan Alkitab 1 tahun: Mazmur 40-42 Kisah Para Rasul 27:1-26
1 Korintus 14:26-28
M1 (MENERIMA) Berdoalah agar kita dapat saling membangun di dalam persekutuan kita saat ini, khususnya dalam gereja.
M2 (MERENUNGKAN) 1. Apa yang hendaknya dilakukan jemaat bila mereka berkumpul? Dan apa tujuannya dari semuanya itu? (26) 2. Apa yang seharusnya dilakukan jikalau ada yang berbahasa roh? (27) 3. Apa yang harus dilakukan jika tidak ada yang menafsirkan bahasa roh dalam persekutuan? (28)
Pengajaran Salah satu pergumulan Paulus dalam jemaat Korintus adalah menyangkut karunia-karunia roh di dalam jemaat. Hal ini menjadi masalah dalam jemaat, karena adanya anggota-anggota jemaat yang kurang memahami tentang karunia-karunia roh, khususnya bahasa roh. Penggunaan bahasa roh di dalam persekutuan terkadang menjadi batu sandungan bagi jemaat, khususnya bagi orang yang belum percaya. Oleh karena, itu Paulus memberikan sebuah penekanan pada kasih (1Kor. 13:13), yang seharusnya menjadi dasar di dalam sebuah persekutuan, bukannya karunia-karunia roh. Pasal 14 merupakan kelanjutan dari apa yang dibicarakan Paulus tentang karunia-karunia roh dalam jemaat, yang tidak dapat dipisahkan dari bagian sebelumnya (pasal 13). Setiap karunia rohani hendaknya bertujuan untuk membangun kehidupan jemaat di dalam kasih. Karena itu, semuanya hendaknya memiliki keteraturan. Dengan demikian, akan tercipta suatu persekutuan yang saling membangun di dalam iman. Persekutuan di sini tidak berbicara tentang satu atau dua orang saja, tetapi banyak orang. Setiap orang harus berbagian di dalam persekutuan, baik dalam puji-pujian maupun pembacaan Firman. Dan hal yang penting adalah setiap karunia roh harus dipergunakan untuk membangun kehidupan berjemaat. Maksudnya, lewat karunia-karunia roh dalam persekutuan, setiap jemaat yang hadir dapat mengerti dan dibangun imannya. Inilah secuplik gambaran kehidupan jemaat mula-mula di Korintus. Pada zaman sekarang, sebagai jemaat Tuhan, kita juga harus berperan dalam membangun persekutuan, khususnya di gereja. Fenomena karunia roh mungkin sering kita temui, atau bahkan kita praktekkan dalam persekutuan. Namun, satu hal yang harus menjadi pelajaran bagi kita, yaitu apakah semuanya itu membangun kehidupan iman kita dalam persekutuan? Apakah iman kita semakin diteguhkan? Apakah kita dapat merasakan hadirat Allah di dalam persekutuan. Ini yang menjadi pertanyaan penting bagi kita. Akan tetapi, hal yang terutama adalah bagaimana persekutuan itu dapat membawa kita berjumpa dengan Tuhan secara pribadi. Persekutuan merupakan salah satu sarana yang Tuhan pakai untuk membangun iman kita. Di dalamnya kita bisa menemukan bagaimana hidup kita bisa saling menjadi berkat satu dengan yang lain. Lewat persekutuan kita diajar untuk hidup bersama, saling membangun dan menguatkan satu dengan yang lain. Dan sebagai satu tubuh Kristus, hendaknya hidup kita senantiasa mempermuliakan nama Tuhan, yang adalah “Kepala Persekutuan” kita.
M3 (MELAKUKAN) Mulailah untuk saling membangun di dalam persekutuan, sesuai dengan karunia yang Tuhan anugerahkan kepada Anda masing-masing.
M4 (MEMBAGIKAN) Bagikanlah berkat-berkat rohani yang Anda dapatkan dalam persekutuan (misalnya: komsel) untuk dapat saling menguatkan dan meneguhkan iman di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Ayat hafalan: ”Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” Ibrani 10:24
Bacaan Alkitab 1 tahun: Mazmur 43-45 Kisah Para Rasul 27:27-44
Mazmur 133
M1 (MENERIMA) Berdoalah agar Tuhan menolong kita, untuk dapat menjadi anggota persekutuan (komsel) dan mengalami berkat-Nya.
M2 (MERENUNGKAN) 1. Keadaan seperti apakah yang baik dan indah? (1) 2. Sebutkan dua keadaan yang menggambarkan kerukunan hidup bersekutu? (2-3a) 3. Apakah akibat yang diperoleh dengan hidup bersekutu dengan rukun? (3b)
Pengajaran Kita tidak mengetahui secara pasti tentang situasi khusus yang melatarbelakangi penyusunan Mazmur 133. Sebagian sarjana menduga mazmur ini dibuat dalam konteks budaya patrilokal Yahudi, yang sangat memungkinkan bagi banyak saudara untuk tetap tinggal dalam satu rumah setelah pernikahan mereka. Menurut budaya patrilokal, setelah laki-laki menikah ia harus tetap tinggal satu rumah dengan ayah dan saudara-saudaranya (bdk. Ul. 25:5; Ams. 17:17; 20:20). Bangsa Israel pasti sudah mengetahui bahwa perseteruan antara saudara merupakan hal yang cukup sering ditemui: Abraham vs. Lot, Yakub vs. Esau, Yusuf vs. saudara-saudaranya. Dalam pemakaian selanjutnya, mazmur ini dipakai secara komunal (nasional) waktu hari raya Israel (Kel. 23:14-17; Im. 23:4-22, 33-43; Bil. 28:16-31; 29:12-39; Ul. 16:1-17). Situasi peringatan hari raya di Yerusalem (jalan yang sempit dan dipenuhi ribuan orang) memang memungkinkan banyak orang untuk egois dan mudah tersulut emosinya. Dalam situasi seperti ini, mazmur ini perlu dinyanyikan untuk mengingatkan bahwa setiap orang Israel adalah satu saudara berdasarkan perjanjian dengan Tuhan: Sama-sama ditebus dari Mesir, melewati Laut Teberau, berkeliling di padang gurun, menerima perjanjian di Sinai, dsb. Keindahan kerukunan hidup bersekutu digambarkan dalam 2 hal: 1. Seperti minyak di kepala Harun yang melimpah (ay. 2). Minyak yang dipakai waktu pentahbisan Harun (dan imam-imam lain) adalah minyak khusus berkualitas dan jumlah minyak (sampai meleleh ke janggut Harun) yang digambarkan menunjukkan bahwa kesegaran yang dihasilkan merupakan kesegaran yang luar biasa. 2. Seperti embun di Gunung Hermon yang melimpah (ay. 3a). Gunung Hermon terletak hampir 10 ribu kaki dari permukaan laut. Ketinggian ini memungkinkan bagi gunung ini untuk terus-menerus memiliki salju, hujan dan embun, sekalipun di musim panas (Mei–Oktober). Menariknya, pemazmur lebih memfokuskan pada embun Hermon. Mengapa? pertama, karena embun merupakan sumber air yang konstan bagi tumbuh-tumbuhan. Embun selalu muncul setiap pagi, sekalipun di Yerusalem tidak ada embun; kedua, karena embun yang sampai ke Bukit Zion menunjukkan jumlah persediaan air yang sangat banyak. Sebagai hasil dari kerukunan di atas, TUHAN memerintahkan berkat, bukan sekedar mencurahkan (ay.3b). Hal yang sama berlaku bagi kita orang percaya, sekalipun kita berasal dari berbagai latar belakang, pola pendidikan, suku dan status yang berbeda, tetapi kita adalah satu saudara dalam Kristus. Kristus sebagai kepala gereja adalah pokok persatuan kita (Gal. 3:26-29; Ef. 4:15-16). Mari melalui persekutuan dengan saudara seiman kita mengalami berkat-Nya. Kita membutuhkan saudara seiman, karena kebutuhan dan tantangan di tengah dunia ini mudah menenggelamkan kita membuat kita jad terpuruk. Sebab itu, bersekutulah melalui komsel!
M3 (MELAKUKAN) Tuliskan (jikalau Anda belum mengikuti Komsel) apakah yang menghambat Anda untuk tidak mengikuti Komsel? Berdoalah supaya Anda dapat melawan hambatan itu dan segera bergabung dalam komsel dan Anda akan mendapat berkat dan janji-Nya melalui kerukunan hidup persekutuan.
M4 (MEMBAGIKAN) Bagikanlah berkat kepada teman-teman Anda saat Anda dimampukan melakukan M3
Ayat hafalan: ”Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” Ibrani 10:24
Bacaan Alkitab 1 tahun: Mazmur 46-48 Kisah Para Rasul 28
I Korintus 11:17-22
M1 (MENERIMA) Berdoalah agar kita bisa menekankan pentingnya relasi dalam persekutuan kita dengan Tuhan dan sesama.
M2 (MERENUNGKAN) 1. Mengapa pertemuan-pertemuan jemaat mendatangkan keburukan? (17-18) 2. Apakah akibat dari perpecahan dalam jemaat Korintus tersebut?(19) 3. Apa penyebab dari perpecahan tersebut? (20-22)
Pengajaran Dalam bagian ini Paulus mencela jemaat Korintus dalam dua hal. Pertama, jemaat Korintus tidak bersekutu ketika berkumpul, sebab ada perpecahan di antara mereka. Hal ini juga sudah disinggung Paulus di bagian permulaan suratnya ini. Kedua, mereka memperlakukan Perjamuan Kudus dengan tidak hormat. Seperti orang rakus, mereka makan seperti orang kelaparan dan minum sampai mabuk. Oleh sebab itu, tidak heran apabila Paulus menyebut pertemuan mereka tidak mendatangkan kebaikan. Akan tetapi, selanjutnya Paulus mengatakan bahwa sekalipun perpecahan itu sendiri bukanlah sesuatu yang baik, tetapi Tuhan bisa memakainya sehingga menghasilkan sesuatu yang baik, yaitu untuk membedakan orang Kristen yang baik dan yang tidak (bdk. 1Yoh 2:19)! Dengan kata lain Paulus ingin mengatakan bahwa jika terjadi perpecahan, itu adalah ujian Tuhan! Karena itu, kita harus tetap teguh ikut Kristus, supaya bisa menunjukkan diri sebagai orang yang tahan uji. Selanjutnya, di ayat 20-22, Paulus menjelaskan latar belakang dari perpecahan tersebut disebabkan oleh karena orang-orang Kristen di Korintus menggabungkan/mencampuradukkan Perjamuan Kudus dengan perjamuan kasih (bdk. Yudas 12). Perjamuan kasih ini adalah suatu pesta makan, di mana tiap-tiap orang harus membawa makanan ke gereja. Tujuan perjamuan kasih itu pada mulanya adalah baik, yaitu supaya orang-orang yang miskin bisa ikut makan. Akan tetapi akhirnya: · tiap orang makan makanannya sendiri. Karena itu, si kaya yang membawa banyak, menjadi mabuk, dan si miskin yang membawa sedikit/tidak membawa apa-apa, tetap lapar. · mereka tidak mulai makan bersama-sama/yang seorang tidak menunggu yang lain (ay. 21 bdk. Ay. 33).
Inilah wujud perpecahan yang Paulus katakan dalam ay. 18! Dan hal ini terjadi karena mereka hanya mementingkan diri sendiri dan berkeinginan untuk memuaskan nafsunya sendiri. Apa yang mereka lakukan dalam perjamuan kasih itu, sekalipun tanpa disengaja, telah menghina dan memalukan orang-orang yang miskin. Mengapa? Karena mereka yang miskin hanya bisa menonton saja orang-orang kaya memakan makanan yang enak-enak, sedangkan mereka hanya bisa makan sedikit dan tidak enak. Dengan tindakan tersebut orang-orang kaya itu telah menghina Allah dan tidak peka akan orang yang berkekurangan serta merusak relasinya dalam persekutuan dengan Allah dan sesamanya. Dalam persekutuan kita dengan Tuhan dan sesama, kita juga harus berani menyangkal diri, melepaskan keinginan untuk mementingkan diri dan memuaskan nafsu kita, supaya kita bisa membangun relasi yang baik dengan Tuhan dan sesama kita dengan baik.
M3 (MELAKUKAN) Daftarkanlah satu orang teman Anda, kembangkanlah relasi Anda dengan mereka pada hari ini dengan mengunjunginya, meneleponnya, mengajaknya makan siang, menghiburnya lewat SMS, mendoakannya, dll!
M4 (MEMBAGIKAN) Bagikan pengalaman dan berkat yang Anda peroleh ketika melakukan M3 kepada anggota keluarga, teman komsel atau sahabat rohani Anda.
Ayat hafalan: ”Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” Ibrani 10:24
Bacaan Alkitab 1 tahun: Mazmur 49-50 Roma 1
1 Timotius 2:1-7
M1 (MENERIMA) Biarlah doa menjadi dasar dalam persekutuan kita, sehingga kita belajar terus untuk berharap dan bersandar kepada Tuhan.
M2 (MERENUNGKAN) 1. Apa yang dinasihatkan Paulus kepada Timotius? (1) 2. Kepada siapa sajakah doa-itu dinaikkan? (1-2) 3. Apa alasan kita harus berdoa kepada Allah? (5)
Pengajaran Paulus menyadari akan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Timotius di dalam pelayanannya. Dia menunjukkan teladan seorang guru yang baik, dengan terus memotivasi Timotius dalam pelayanannya. Paulus tidak hanya sekedar berbicara tentang konsep pelayanan, akan tetapi lebih daripada itu, ia memberikan teladan hidup kepada muridnya ini. Nasihat untuk menaikkan permohonan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan menjadi hal pertama yang dikatakan kepada Timotius. Doa yang dimaksud bukan doa kepada diri sendiri, tetapi doa untuk semua orang. Di sini dapat dilihat bagaimana suatu persekutuan antara guru dan murid (komsel) yang berdampak pada orang lain. Paulus yakin bahwa doa merupakan kekuatan yang mampu “menggerakkan” hati Tuhan. Kepada siapa doa dinaikkan? Tentu saja kepada Tuhan, karena itu jugalah yang Ia kehendaki dalam kehidupan setiap umat-Nya. Doa menjadi dasar bagi pelayanan Paulus dan Timotius, karena disitulah letak kuasa dan kekuatan, yang Allah nyatakan lewat pelayanan mereka. Dengan doa, Paulus berani melakukan tugas pelayanannya dan itulah yang hendak ia teruskan kepada Timotius, muridnya. Persekutuan di dalam doa antara Paulus dan Timotius hendak mereka “tularkan” kepada jemaat yang mereka layani. Inilah yang menjadi sumber kekuatan mereka, yaitu doa, yang tidak hanya ditujukan kepada mereka, tetapi kepada orang-orang yang mereka layani, bahkan lawan-lawan mereka. Inilah kekuatan dari suatu persekutuan di dalam Tuhan. Saat ini, coba kita evaluasi kehidupan doa kita, seberapa banyak waktu kita untuk berdoa? Atau jika, kita memilikinya, seberapa banyak kita berdoa untuk sesama kita? Ataukah kita hanya terus berdoa untuk diri kita sendiri? Tentu saja kita perlu berdoa bagi pergumulan kita sendiri, akan tetapi, kita juga harus memiliki waktu untuk mendoakan sesama kita. Di dalam doa, umat Tuhan disatukan. Bersekutu di dalam doa, bagi orang-orang percaya, merupakan sebuah keharusan. Tujuannya adalah untuk saling menguatkan dalam iman kita. Ketika kita menjadi orang percaya, maka hidup bersekutu dengan orang lain adalah merupakan suatu kewajiban. Bukan untuk hidup eksklusif, tetapi untuk hidup saling memberkati satu dengan yang lain. Tuhan mau agar hidup kita menjadi berkat bagi gereja dan bagi dunia ini. Bersekutu di dalam doa dapat menjadi kekuatan yang dapat mengubahkan hidup kita dan mengubahkan dunia ini, seturut dengan kehendak dan rencana Tuhan.
M3 (MELAKUKAN) Mulailah untuk mendoakan orang-orang di sekitar kita, mulailah dari lingkungan keluarga, tempat kita tinggal dan gereja. Kita juga dapat berdoa untuk bangsa dan negara, serta dunia ini, lewat apa yang kita lihat di media-media yang ada (koran, TV, internet, dll).
M4 (MEMBAGIKAN) Saksikanlah kisah hidup Anda kepada orang lain, di dalam Komsel atau persekutuan-persekutuan lainnya, bagaimana kuasa doa menguatkan dan meneguhkan iman Anda.
Ayat hafalan: ”Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” Ibrani 10:24
Bacaan Alkitab 1 tahun: Mazmur 51-53 Roma 2
Yakobus 4:11-12
M1 (MENERIMA) Berdoalah supaya kita dapat menjaga persekutuan dengan sesama lewat sikap yang tidak menghakimi sesama kita dan menghormati Tuhan sebagai Hakim dan pembuat hukum.
M2 (MERENUNGKAN) 1. Peringatan apa yang diberikan Yakobus? (11a) 2. Bagaimanakah pandangan Yakobus tentang orang yang memfitnah atau menghakimi saudaranya? (11b) 3. Siapakah pembuat hukum atau Hakim atas manusia? (12a). Apakah kesimpulan Yakobus untuk menegaskan peringatannya? (12b)
Pengajaran Apakah ada kegiatan yang lebih menyenangkan daripada membicarakan tentang kesalahan orang lain? Seharusnya tidak demikian, terutama untuk orang-orang Kristen, tapi sepertinya hal ini sudah dianggap sebagai bentuk hiburan yang wajar. Memang bukan hal yang mengejutkan lagi, jika kita menonton acara di TV di mana orang-orang saling menjatuhkan, membicarakan keburukan orang lain di belakang, atau bahkan langsung di hadapan wajah mereka. Itu tampak lucu di TV, tapi sama sekali tidak lucu di kehidupan nyata, apalagi jika kita sendiri adalah orang yang menjadi objek pembicaraan. Alkitab telah berbicara banyak tentang menghakimi. Yesus dan murid-murid-Nya mengerti dengan jelas kecenderungan manusia untuk menjatuhkan sesamanya. Di antara kalangan orang Kristen, hal ini juga termasuk tindakan atau pembicaraan yang mempertanyakan kondisi rohani orang lain. Tuhan tidak menilai atau membuat keputusan dengan cara yang sama seperti kita. Manusia menilai dan menghakimi berdasarkan apa yang terlihat di luar, tapi Tuhan melihat ke dalam pikiran dan motivasi hati setiap orang (1 Sam.16:7). "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu" (Mat.7:1-5). Kita harus berhenti menghakimi orang lain berdasarkan apa yang dunia pikirkan tentang mereka. "Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya” (Yak. 4:11).
M3 (MELAKUKAN) Buatlah komitmen dan tekad Anda untuk tidak menghakimi sesama Anda dengan sikap menjaga perkataan Anda dan berhati-hati untuk memberitakan sesuatu yang tidak benar tentang sesama Anda!
M4 (MEMBAGIKAN) Bagikanlah komitmen dan tekad Anda dalam M3 dan ajaklah rekan-rekan komsel Anda untuk melakukannya bersama Anda!
Ayat hafalan: ”Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” Ibrani 10:24
Bacaan Alkitab 1 tahun: Mazmur 54-56 Roma 3
Efesus 4 : 1-7
M1 (MENERIMA) Memohonlah kepada Tuhan agar kita diberi kerelaan hati untuk menjadi satu kesatuan di dalam Kristus.
M2 (MERENUNGKAN) 1. Apakah nasihat yang diberikan rasul Paulus kepada jemaat di Efesus? (1) 2. Bagaimanakah seharusnya sikap kita sebagai manusia agar dapat berpadanan dengan panggilan Tuhan? (2-3) 3. Mengapa kita harus menjadi satu? (4-6)
Pengajaran Menurut tafsiran, surat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus ini ditulis kira-kira saat ia sedang berada dalam penjara Roma, dengan tujuan menasihati jemaat di Efesus agar mereka dapat mengerti tentang kepercayaan hidup sebagai satu kesatuan jemaat di dalam Kristus. Juga dimaksudkan untuk menguatkan iman mereka dalam Kristus. Di dalam suratnya, rasul Paulus menasihatkan para jemaat untuk bersatu menjadi satu kesatuan. Pada ayat 1, dalam bahasa aslinya, terdapat 2 kata ”sebab itu”, menunjukkan kaitan dengan beberapa pasal sebelumnya yang membicarakan tentang kebenaran rahasia panggilan, maka disini rasul Paulus menasihatkan para jemaat di Efesus untuk dapat hidup berpadanan dengan panggilan Tuhan, harus menjadi satu kesatuan di dalam Kristus. Sebagai orang yang dipernjarakan karena Tuhan, rasul Paulus menasihatkan kita bahwa anugerah keselamatan yang kita miliki hanya dikarenakan oleh kasih karunia Tuhan, anugerah-Nya ini yang menaikkan kedudukan kita. Di dalam kehidupan nyata, sikap hidup kita harus berpadanan dengan panggilan kita, dan harus bersikap sebagai bagian dari anggota tubuh Kristus yang dapat menyatakan kemuliaan-Nya. Di saat melakukan sesuatu dalam kehidupan nyata, hati kita harus lurus, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menjadi satu kesatuan. Dalam segala hal dengan rendah hati menyelidiki apa yang menjadi kekurangan kita, juga apa yang menjadi kelebihan orang lain dibanding kita, harus lemah lembut, taat melakukan rancangan Tuhan tanpa membangkang, tanpa dendam membiarkan ketidakramahan orang lain, punya hati yang senantiasa sabar, memperlakukan utang orang lain dengan sikap hati Kristus, tidak memperhitungkan kesalahan orang lain yang melukai kita, selalu berhubungan dengan orang lain dengan hati yang aman dan damai, dengan tidak putus-putusnya memelihara kesatuan Roh. Dengan menjaga sikap hidup yang seperti ini maka kesatuan jemaat akan tercapai. Wadah bagi orang-orang yang terpanggil yang diselamatkan adalah gereja. Gereja adalah tubuh Kristus, dan tubuh itu hanya ada satu. Walaupun terdapat perbedaan ras, warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa dan karakter, namun semuanya itu merupakan anggota tubuh Kristus. Kita mempunyai satu Roh Kudus yang sama yang tinggal dalam setiap diri kita dan sama-sama menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Kita dapat bersama-sama hidup dengan Kristus, hidup seperti Dia, juga memberitakan kemuliaan-Nya yang tidak terbatas. Mempunyai Juruselamat yang sama yaitu Yesus Kristus, iman yang sama, sama-sama berada dalam Roh Kudus, bahkan dibaptis dalam kematian Kristus, dikuburkan, disatukan dengan Kristus melalui kebangkitan, dan punya Tuhan yang sama. Tuhan adalah penguasa alam semesta, yang maha besar dan maha kuasa. Bila segala sesuatu kita lakukan didalam Dia maka Dia ada dalam kita. Kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Puji syukur kepada Tuhan yang telah memanggil kita. Kita harus mempunyai sikap hidup yang bener yang dapat memperkenankan Tuhan yang telah memilih kita, harus sering menyelidiki diri apakah hidup kita telah sesuai dengan kriteria sebagai murid Tuhan. Dalam kehidupan berjemaat apakah setiap kita telah melepaskan ego diri untuk dapat menjadi satu dengan saudara/i seiman lainnya. Keinginan Tuhan adalah kita dapat menjadi satu (Yoh 17 : 21-23). Nasihat dan dukungan dari rasul Paulus serta anugerah kasih karunia dari Tuhan yang berbeda-beda untuk setiap kita mempunyai tujuan agar dengan perbedaan yang ada di antara kita, dengan kedudukan dan pribadi unik masing-masing, kita melayani Tuhan bersama-sama dengan saudara/i seiman lainnya.
M3 (MELAKUKAN) Selidikilah hati kita masing-masing, apakah yang menghalangi kita untuk dapat bersekutu menjadi satu dengan saudara/i seiman yang lain. Berdoalah kepada Tuhan utnuk membantu kita membuang penghalang itu agar dengan hati yang tulus dan benar bersekutu dengan jemaat yang lain.
M4 (MEMBAGIKAN) Bagikanlah berkat dan pengalaman yang Anda dapatkan dari melakukan M3 kepada keluarga, teman-teman komsel maupun kepada orang-orang di sekitar Anda.
Ayat hafalan: ”Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” Ibrani 10:24
Bacaan Alkitab 1 tahun: Mazmur 57-59 Roma 4
adalah pelayanan anak: "Gereja-gereja Kuba telah sadar dengan kenyataan bahwa pelayanan anak merupakan jendela kesempatan yang besar untuk menjangkau rumah-rumah yang mungkin tidak bisa dijangkau. Anak-anak bukanlah satu-satunya kelompok yang menanggapi kasih Kristus: "Pertobatan yang mereka saksikan di antara anak-anak sangat besar; tetapi lebih dari itu, ada keinginan dari orang tua mereka untuk mencari sesuatu yang berguna bagi keluarga mereka." Doakan agar melalui pelayanan mereka banyak orang dapat menerima kebenaran Injil. 7. Berdoa untuk saudara/i yang sedang lemah tubuh :
|