|
PELITA Vol.
162 15-21 Maret '10
|
MENGELOLA AMARAH
Amarah bukanlah dosa. Efesus 4:26a mengatakan, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa.” Berarti Allah dapat menerima dan memahami kehadiran amarah itu sendiri. Yang menjadi masalah (dosa atau tidak), bukannya amarah itu sendiri, tetapi ekspresi dari amarah. Ekspresi amarah itulah yang menentukan apakah seseorang membawa dosa atau membawa kemenangan. Menang berarti orang tersebut dapat memimpin emosinya. Ia tahu bagaimana mengendalikan dan menyalurkan amarahnya. Melalui Pelita edisi 162 ini, kita akan belajar lebih jauh tentang ’amarah’ dan bagaimana kita dapat mengelola amarah itu sendiri, sehingga kita dapat keluar sebagai seorang pemenang atas amarah kita. Selamat menjadi seorang pemenang, Tuhan memberkati.
redaksiPELITA
Efesus 4:26-32
M1 (MENERIMA) Mohon Tuhan menolong kita untuk dapat menerapkan karakter yang benar dalam kehidupan kita sehari-hari khususnya menyangkut soal marah.
M2 (MERENUNGKAN) 1. Apakah peringatan Paulus berkenaan dengan soal marah? (26) 2. Sebutkan pertobatan yang harus dilakukan sehubungan dengan dosa perbuatan, perkataan, dan yang ada di dalam hati! (28,29,31) 3. Sikap apakah yang harus kita miliki dalam berinteraksi dengan sesama? (32)
Pengajaran Perikop ini merupakan penggalan dari topik yang berbicara tentang manusia baru, yaitu mengenai karakter yang harus dimiliki oleh orang-orang yang telah mengenal Kristus. Sebagai seorang manusia baru, maka kita harus menanggalkan karakter manusia lama, yang salah satunya adalah marah. Pada dasarnya, kemarahan adalah sesuatu hal yang wajar bagi setiap manusia. Kalau seseorang tidak pernah marah, maka kepribadiannya perlu dipertanyakan. Demikian juga sebaliknya kalau seseorang itu selalu marah, maka kepribadiannya juga harus dipertanyakan. Walaupun marah itu bersifat alami dan normal, namun kemarahan tidaklah timbul dengan sendirinya. Ia merupakan respon emosi dari seseorang ketika mendapat ancaman, hal yang membahayakan, diperlakukan tidak adil, dibohongi ataupun ditipu oleh orang lain. Dengan kata lain marah timbul karena batas-batas emosi yang kita miliki telah terganggu atau terancam. Secara internal, marah bisa terjadi ketika menghadapi masalah-masalah pribadi, mengingat peristiwa yang sangat mengganggu pikiran, kekecewaan pada situasi lingkungan, kurang percaya diri dan sebagainya. Sementara secara eksternal, marah bisa timbul karena berbagai situasi dari luar, misalnya: menghadapi kepadatan lalulintas, mendapat ancaman, ataupun diperlakukan secara tidak adil. Marah yang tidak terkendali adalah sangat merugikan. Apabila seseorang begitu dikuasai kemarahan, ia bisa dibuat buta seperti: kehilangan akal sehat, bersikap ngawur, tak peduli dan tak kenal siapa yang menjadi sasaran kemarahannya. Marah semacam itu bisa menghancurkan semangat, hubungan, juga kedamaian. Maka Firman Tuhan hari ini mengingatkan agar ketika kita sedang marah, kita tidak bersikap seperti manusia lama yang belum mengenal Kristus. Seorang manusia lama, ketika marah cenderung bersikap bodoh, berhati degil dan berperasaan tumpul (ay. 17-19). Kemarahan yang tidak terkendali bisa membuat kita mudah berbuat dosa, karena itu bisa menyakiti dan melukai diri kita sendiri dan orang lain. Namun, pengenalan akan Kristus dan pembaharuan roh serta pikiran akan memampukan kita menahan diri untuk tidak berbuat dosa (ay. 21-23). Menyimpan kemarahan akan menumbuhkan akar pahit di hati dan pikiran, yang semakin lama akan dapat merusak jiwa dan raga. Melalui perikop ini, kita diingatkan supaya membuang kemarahan sebelum matahari terbenam (ay. 26). Kemarahan dapat menjadi tempat Iblis untuk menghancurkan kehidupan kita. Maka, Tuhan meminta kita untuk tidak memberi kesempatan kepada Iblis (ay. 27). Mohon Tuhan kiranya menolong kita agar dapat mengendalikan kemarahan kita.
M3 (MELAKUKAN) Coba pikirkan dalam waktu satu atau dua minggu belakangan ini, kapankah Anda terakhir kali marah? Apakah Anda marah dengan sikap benar atau tidak? Buatlah sebuah tekad, untuk memperbaiki sikap Anda ketika marah.
M4 (MEMBAGIKAN) Bagikan berkat yang Anda terima dan tekad yang Anda buat kepada teman komsel Anda!
Ayat Hafalan: Pengkhotbah 7:9 “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.”
Bacaan Alkitab 1 tahun: Ulangan 26–27; Markus 14:27–53
Matius 5:21-24
M1 (MENERIMA) Mohonlah kepada Tuhan supaya Ia membersihkan hati kita dari setiap amarah yang ada dan dapat berdamai dengan sesama kita.
M2 (MERENUNGKAN) 1. Firman apa yang diterima oleh nenek moyang orang Yahudi pada zamannya? (21) 2. Apa yang dikatakan Yesus kepada mereka? (22) 3. Bagaimana sikap kita yang seharusnya ketika beribadah kepada Tuhan? (23-24)
Pengajaran Di dalam perikop ini dikatakan adanya orang yang marah terhadap saudaranya. Kata bahasa Yunani yang dipakai di sini ialah orgizesthai. Di dalam bahasa Yunani ada dua kata untuk marah. Kata itu adalah thumos, yang melukiskan kemarahan seperti nyala api yang keluar dari bahan yang mudah terbakar. Kemarahan seperti itu akan cepat membesar tetapi juga cepat padam, cepat muncul tetapi juga cepat hilang. Kata yang kedua adalah orge yang melukiskan kemarahan sebagai sesuatu yang berurat dan berakar serta sulit dihilangkan. Orge adalah kemarahan yang berjangka panjang. Kemarahan itu akan tetap hangat di dalam diri seseorang dan akan demikian terus dalam jangka waktu yang panjang, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa padam. Jadi, di sini Yesus mengutuk kemarahan seperti itu. Alkitab pun secara jelas melarang kemarahan karena, ”Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yak.1:20). Paulus juga meminta agar para pengikutnya membuang semua ”marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor” (Kol.3:8). Jadi Yesus sama sekali melarang kemarahan yang mendendam, kemarahan yang tak bisa dilupakan, tak bisa didamaikan, dan kemarahan yang berusaha membalas dendam. Kalau kita mentaati Yesus, maka semua kemarahan itu harus hilang dari hidup kita, khususnya kemarahan yang selalu hendak muncul setiap waktu. Tuhan Yesus sebenarnya hanya ingin mengingatkan orang-orang Yahudi kembali kepada pokok pikiran yang ada di balik persembahan itu, yaitu: ”Kalau ada orang yang melakukan kesalahan, maka kelakuannya itu akan mengganggu hubungannya dengan Allah.” Dan maksud dari persembahan atau korban adalah untuk memulihkan kembali hubungan yang terganggu itu. Kalau tujuan dari korban persembahan adalah untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah, maka hal itu juga berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesamanya. Karena itu melalui perikop ini, kita kembali diingatkan bahwa kemarahan dapat menjadi kesalahan, kalau hal tersebut mengganggu hubungan seseorang dengan Allah. Dan firman Tuhan mengatakan supaya mereka yang mau datang beribadah kepada Tuhan, hendaknya membereskan setiap masalahnya terlebih dahulu yang berkaitan dengan amarah kepada sesamanya. Apakah kita sedang memiliki amarah terhadap sesama kita? Berdamailah segera, karena Allah tidak menginginkan hubungan kita terganggu dengan Dia.
M3 (MELAKUKAN) Lakukanlah segera pada hari ini, rekonsiliasi (berdamai) dengan sesama Anda yang mempunyai masalah dengan Anda, sehingga Anda dapat melakukan ibadah kepada Tuhan dengan benar. M4 (MEMBAGIKAN) Bagikan berkat dari M3 yang Anda lakukan hari ini dan ajaklah teman-teman komsel Anda untuk melakukannya!
Ayat Hafalan: Pengkhotbah 7:9 “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.”
Bacaan Alkitab 1 tahun: Ulangan 28–29; Markus 14:54–72
Markus 11:15-19
M1(MENERIMA) Berdoalah agar kita bisa belajar dan meneladani kehidupan Yesus, yang menunjukkan sikap marah karena kebenaran.
M2(MERENUNGKAN) 1. Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus pada saat Ia masuk ke Bait Allah? (15) 2. Apakah yang Yesus ajarkan kepada mereka tentang Bait Allah? (17) 3. Siapakah yang berusaha untuk membinasakan Tuhan? Mengapa? (18)
Pengajaran Peristiwa dalam cerita di atas terjadi di pelataran/halaman Bait Allah yang menjadi kawasan bagi kaum non-Yahudi. Kawasan tersebut sebetulnya dimaksudkan sebagai tempat untuk berdoa dan melakukan persiapan. Namun pada masa Tuhan Yesus, kawasan tersebut telah bernuansa komersil. Disana terjadi kegiatan jual beli atau transaksi dagang. Yang membuat lebih parah lagi adalah bahwa bisnis yang berlangsung di sana merupakan eksploitasi belaka terhadap para peziarah. Setiap orang Yahudi harus membayar bea untuk Bait Allah sebesar satu setengah syikal setahun. Bea tersebut harus dibayarkan dengan satu koin berjenis khusus dan pembayaran bea ini harus dengan syikal yang tersedia ditempat suci. Orang-orang Yahudi datang dari seluruh penjuru dunia dan membawa segala jenis mata uang. Bila mereka mau menukar uang mereka, mereka harus membayar sejumlah tertentu lagi. Jadi kebanyakan peziarah harus membayar tambahan-tambahan ini sebelum mereka dapat membayar bea mereka. Apa yang membuat Tuhan Yesus pada saat itu begitu marah? o Ia marah karena para peziarah diperas. Para penguasa bait Allah tidak memperlakukan mereka sebagai orang yang datang untuk beribadah, bahkan bukan sebagai manusia tetapi sebagai barang yang diperas untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Manusia yang memeras selalu mendatangkan murka Allah. Kemarahan itu akan semakin berlipat ganda bila pemerasan itu dilakukan dengan jubah agama. o Ia marah karena tempat kudus Allah telah dicemari. Manusia telah kehilangan kesadaran akan kehadiran Allah di rumah Allah sendiri. Dengan mengkomersilkan hal-hal kudus, mereka telah mencemarinya. o “Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa”, menyatakan kepada kita bahwa ada kemungkinan bahwa Yesus marah karena ibadah Yahudi menjadi begitu eksklusif dan Ia ingin mengingatkan mereka bahwa Allah mengasihi bukan hanya orang-orang Yahudi melainkan seisi dunia ini. Melalui perikop hari ini, kita belajar bahwa kebenaranlah yang menjadi alasan Yesus untuk marah. Ketika kita melihat kebenaran Allah sudah tidak dihargai dan dihidupi dengan benar, maka kita harus menyatakan sikap yang tegas seperti sikap Yesus, marah karena kebenaran.
M3 (MELAKUKAN) Mulailah dari sekarang, lebih peka terhadap alasan Anda untuk marah. Silahkan mengevaluasi sikap Anda ketika Anda marah, dan janganlah takut untuk menyatakan sikap yang tegas karena kebenaran!
M4 (MEMBAGIKAN) Bagikanlah berkat firman Tuhan pada hari ini, kepada sahabat dan teman komsel Anda.
Ayat Hafalan: Pengkhotbah 7:9 “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.”
Bacaan Alkitab 1 tahun: Ulangan 30–31; Markus 15:1–25
Yakobus 1:19-21 ”Marah yang tidak benar”
M1 (MENERIMA) Berdoalah agar Tuhan menolong Anda dapat mengontrol emosi Anda sehingga tetap dalam kebenaran.
M2 (MERENUNGKAN) 1. Apakah yang Yakobus ingatkan kepada pembacanya? (19b) 2. Mengapa tidak boleh marah? (20) 3. Bagaimanakah cara mengendalikan dan membuang semua kotoran dan kejahatan? (21b)
Pengajaran Setiap kita pasti pernah marah. Kemarahan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Apakah marah itu dosa? Mari kita perhatikan apa kata Alkitab tentang kemarahan: o Kemarahan manusiawi adalah sesuatu yang normal dan tidak selalu terikat dengan dosa. Allah menciptakan manusia dengan perlengkapan emosi termasuk kemarahan, karena itu kemarahan bisa menjadi emosi yang positif, contoh: Tuhan Yesus marah kepada orang-orang Farisi atau juga pernah marah kepada para pedagang di halaman bait Allah. o Kemarahan manusiawi adalah sesuatu yang buruk dan merusak, karena motivasi, tujuan, dan caranya tidak sesuai bahkan bertentangan dengan kebenaran iman Kristen. Oleh karena ’merusak dan berdosa’, marah inilah yang dimaksud Yakobus 1:19-20 “tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah”, karena membawa kepada dosa yang lebih besar. Kemarahan ada yang tidak berakibat dosa tetapi ada juga yang membawa ke dalam/berkembang kepada perbuatan-perbuatan dosa yang lebih besar lagi yaitu marah untuk balas dendam, benci, sakit hati, dan kata-kata kasar. o Kemarahan manusiawi dapat dikontrol dan diarahkan untuk kebaikan. Alkitab banyak menyaksikan bahwa kemarahan manusia dapat dikontrol. Yang lebih mengherankan lagi, Alkitab tidak mengajarkan orang percaya untuk selalu menekan kemarahan. Ada bagian-bagian Alkitab yang menyatakan bahwa kemarahan dapat diselesaikan dengan positif melalui keterbukaan (2 Tim.4:2b “tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran”). o Kemarahan adalah sesuatu yang wajar dan penting, asal cocok situasinya. Perasaan marah tidak selalu berakibat buruk atau meniadakan kasih. Yang penting secara moral adalah apa yang kita kerjakan pada waktu marah. Paulus berkata “apabila kamu marah janganlah kamu berbuat dosa” (Ef.4:26). Boleh marah asal bisa kontrol; kemarahan tidak jahat tetapi tergantung pada apa yang kita lakukan dan jangan sampai berbuat dosa. o Kita tidak berhak marah apabila orang tidak bersikap sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Kita dapat menghentikan kemarahan kita dan jangan membiasakan diri mengatakan, ”Wajarlah aku marah.” Jangan seperti Yunus! Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: "Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?" Jawabnya: "Selayaknyalah aku marah sampai mati" (Yun.4:9). Allah tidak melarang kita untuk marah, asalkan memenuhi syarat yaitu tidak berbuat dosa. Kunci untuk menguasai diri dari amarah yang tidak benar adalah menerima firman yang sudah tertanam di dalam hati kita dan membuang segala kebiasaan yang kotor dan jahat (ay. 21). M3 (MELAKUKAN) 1. Jika Anda marah, ujilah apakah Anda bisa mengendalikannya. Jika tidak bisa, itu berarti marah Anda tidak dalam kebenaran. 2. Yakobus 1:21 mengatakan, ”Buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan.................................” (pikirkan dan tuliskanlah........................................................................................................................); terimalah dengan lemah lembut firman hari ini yang dapat mengubah Anda.
M4 (MEMBAGIKAN) Bagikanlah berkat Firman Tuhan hari ini kepada teman-teman Anda yang masih sering melakukan marah yang tidak benar. Ayat Hafalan: Pengkhotbah 7:9 “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.”
Bacaan Alkitab 1 tahun: Ulangan 32–34; Markus 15:26–47
Pengkhotbah 7:8-9
M1 (MENERIMA) Berdoalah agar Tuhan menolong Anda dapat menjaga diri dari kemarahan yang berakibat melakukan tindakan yang bodoh
M2 (MERENUNGKAN) 1. Sebutkan dua hal yang baik menurut Pengkhotbah! (8) 2. Di manakah pertama kali marah timbul? (9a) 3. Mengapa tidak boleh cepat marah dalam hati? (9b)
Pengajaran Kita sering menilai kemarahan dari segi episode-episodenya, kita menjadi marah dan kemudian kita tidak marah lagi. Kadang-kadang kita minta maaf kepada orang yang menjadi objek kemarahan kita, tetapi kadang-kadang tidak. Hal ini dapat mengakibatkan kemarahan balasan secara terbuka atau kekesalan yang terpendam dan kehidupan seakan-akan berjalan seperti biasanya. Relasi kita dengan orang itu mungkin telah retak tetapi tidak hancur. Sepertinya kita menerima kemarahan itu sebagai hal yang biasa dan menerimanya sebagai bagian dari kehidupan. Namun, Alkitab tidak menanggapi kemarahan kita dengan cara demikian, sebaliknya Alkitab menyuruh kita membuang kemarahan dan jangan disimpan sampai matahari terbenam (Ef.4:26,31). Jika ’marah’ tidak dibuang atau tidak dibereskan, akan mendorong kepada tindakan bodoh. Pengkhotbah mengatakan ”panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati” (ay. 8b); panjang sabar adalah lawan dari marah. Dan memang seringkali kita marah bukan karena kegagalan tetapi karena tinggi hati/kesombongan yang identik dengan keegoisan kita dan keinginan untuk menguasai. Kita menjadi marah karena seseorang telah berlaku tidak adil terhadap kita. Mengapa? Mungkin karena reputasi kita atau karakter kita telah dipertanyakan. Sekali lagi karena kesombongan kita. Pengkhotbah mengatakan, ”Jangan lekas-lekas marah dalam hati” (ay.9a); hati adalah pusat pikiran dan tindakan kita, dan kalau kita tidak menguasai hati kita, sangat berbahaya. Kemarahan dimulai dari hati yang kesal. Kekesalan adalah kemarahan yang dipelihara dan dipendam – ”amarah menetap dalam dada” (ay. 9b). Kekesalan muncul dalam hati seseorang yang diperlakukan dengan kasar dalam hal tertentu, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa. Kekesalan mungkin lebih sulit ditangani dari pada kemarahan yang ditunjukkan, karena orang yang mengalaminya sering terus memelihara lukanya dan mengingat-ingat perlakuan kasar yang diterimanya; ini akan menimbulkan akar pahit/dendam yang terus menerus (kebencian yang mendalam), akhirnya dapat menimbulkan pertikaian dan tindakan bodoh. Betapa bahayanya kemarahan yang tidak diselesaikan/dipendam – ”menetap dalam dada.” Bagaimanakah kita dapat langsung menyelesaikan kemarahan kita supaya kita tidak mempertahankannya sampai menghasilkan tindakan yang bodoh? Kita harus mengandalkan kedaulatan Allah. Allah tidak menyebabkan orang lain berlaku tidak adil kepada kita, tetapi ia mengizinkannya dan hal itu selalu diizinkan untuk suatu tujuan – yang paling sering adalah demi pertumbuhan kita menuju keserupaan dengan Kristus. Berdoalah agar Allah memampukan kita bertumbuh dalam kasih bukan dengan menyimpan kemarahan.
M3 (MELAKUKAN) Segeralah bereskan amarah Anda dan temuilah orang yang telah membuat Anda marah; jangan disimpan menjadi akar pahit yang mendorong kepada pertikaian dan tindakan bodoh. Jangan takut andalkan Tuhan!
M4(MEMBAGIKAN) Bagikanlah berkat Firman Tuhan hari ini kepada teman-teman Anda yang masih membiarkan amarah menguasai hati mereka.
Ayat Hafalan: Pengkhotbah 7:9 “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.”
Bacaan Alkitab 1 tahun: Yosua 1–3; Markus 16
Amsal 15:1-4
M1 (MENERIMA) Berdoalah agar Tuhan menolong kita untuk mengatasi amarah dengan belajar mengendalikan lidah kita.
M2 (MERENUNGKAN) 1. Jawaban seperti apakah yang dapat meredakan kegeraman? Perkataan yang bagaimana yang dapat membangkitkan amarah? (1) 2. Apa yang dikeluarkan oleh lidah orang bijak? Apa yang dicurahkan oleh mulut orang bebal? (2) 3. Gambaran apakah yang diberikan kepada lidah lembut? (4)
Pengajaran Robert Jones dalam bukunya ’Uprooting Anger’ menulis demikian, ”Kemarahan adalah suatu masalah universal yang lazim dalam setiap budaya dan dialami oleh setiap generasi. Tidak ada yang terbebas dari kehadirannya atau kebal terhadap racunnya. Kemarahan menembusi setiap orang dan merusak relasi-relasi kita yang paling intim. Kemarahan adalah bagian yang pasti dari dasar keberadaan kita yang berdosa.” Kemarahan merupakan persoalan yang sangat luas dan kompleks, dan kemarahan seringkali disertai dengan emosi-emosi, kata-kata dan tindakan-tindakan berdosa yang menyakiti mereka yang menjadi objek kemarahan kita. Beberapa orang cenderung untuk mengungkapkan kemarahan mereka dengan bahasa yang kasar dan biasanya menyakitkan. Yang lainnya akan mengungkapkannya dengan cara-cara yang lebih tidak kelihatan, seperti menyindir atau memberikan komentar sarkastis kepada atau tentang orang yang menjadi objek kemarahannya. Oleh sebab itu, berkaitan dengan kemarahan yang diungkapkan dengan kata-kata, secara khusus penulis Amsal menuliskan bahwa, ”Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” Penulis Amsal menyarankan pengendalian diri dalam hal berkata-kata. Ada banyak kemarahan dapat dibangkitkan atau diredakan oleh jawaban yang diberikan oleh seseorang. Oleh sebab itu, penting sekali bagi kita untuk berhati-hati dalam apa yang dikatakan. Kita perlu bijak dalam berkata-kata seperti yang dituliskan oleh penulis Amsal bahwa, ”lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan.” Orang yang bijak cenderung mengendalikan dirinya dan memikirkan apa yang akan dikatakan sebagai respon terhadap apa yang terjadi; tidak demikian dengan orang-orang bodoh yang mencurahkan isi hati dan pikirannya, sejalan dengan emosinya tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu, oleh sebab itu tidak heran apabila orang-orang bodoh seringkali mencurahkan kebodohannya dengan kata-kata yang jahat (ay. 28) dan melukai hati (ay. 4). Banyak di antara kita mengalami kesukaran dalam mengendalikan mulut dan tidak jarang kemarahan memuncak karena kurangnya pengendalian lidah. Mulai saat ini, marilah kita belajar meredakan amarah yang timbul dengan mengendalikan perkataan kita. Marilah kita mulai hari ini, menggunakan perkataan yang lembut untuk meredakan kemarahan.
M3 (MELAKUKAN) Renungkanlah! 1. Pernahkah Anda mengalami kemarahan karena perkataan yang diungkapkan orang lain kepada Anda? Mengapa Anda marah? 2. Pernahkah Anda mengeluarkan kata-kata yang membuat orang lain marah? Mengapa? Jika kemarahan tersebut belum dibereskan, bereskanlah segera! Berikanlah pengampunan dan mintalah pengampunan! Mintalah Roh Kudus menolong kita untuk mengendalikan emosi dan perkataan kita!
M4 (MEMBAGIKAN) Bagikanlah berkat dan pengalaman rohani yang Anda peroleh ketika Anda melakukan M3!
Ayat Hafalan: Pengkhotbah 7:9 “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.”
Bacaan Alkitab 1 tahun: Yosua 4–6; Lukas 1:1–20
Kolose 3:5-13
M1 (MENERIMA) Berdoalah agar sebagai manusia baru, Tuhan menolong kita untuk membuang amarah yang adalah dosa.
M2 (MERENUNGKAN) 1. Hal-hal duniawi apakah yang harus kita matikan dalam diri kita? (5) 2. Mengapa kita harus membuang segala sesuatu yang duniawi dari diri kita? (9,10) 3. Apa yang harus kita lakukan sebagai orang yang telah dikuduskan dan dikasihi Allah? (12,13)
Pengajaran Ketika seseorang menjadi orang percaya, harus ada perubahan total dalam kepribadiannya. Ia harus menanggalkan manusia lamanya dan mengenakan manusia baru. Dalam ayat 8 Paulus berkata bahwa ada hal-hal tertentu yang harus dibuang oleh orang-orang percaya sebagai manusia baru. Kita harus menanggalkan kehidupan yang lalu dan mengenakan yang baru. Kita harus mau mematikan segala sesuatu yang duniawi, yang dapat mendatangkan murka Allah dan yang biasa dilakukan oleh manusia lama. Setelah itu, dalam ayat 12, Paulus melanjutkannya dengan gambaran dan berbicara tentang hal-hal yang harus dikenakan orang Kristen. Hal-hal yang harus dibuang itu, diantaranya adalah perasaan marah dan geram. Kedua kata itu adalah orge dan thumos. Thumos adalah luapan suatu kemarahan yang tiba-tiba, yang mudah sekali meledak dan mudah pula padam. Sedangkan orge adalah kemarahan yang telah berakar, kemarahan yang berlangsung lama, diam-diam tetapi pasti, yang menolak didamaikan dan membiarkan api kemarahannya membara. Bagi orang percaya, ledakan kemarahan maupun kemarahan yang berupa kegeraman yang berlangsung lama, sama-sama dilarang. Keduanya bukanlah hal yang baik, melainkan seringkali membawa kepada dosa-dosa yang lebih serius. Jadi bagaimana kita harus menghadapi kemarahan kita dengan cara yang memuliakan Allah? Pertama-tama kita harus menyadari dan mengakui kemarahan kita dan keberdosaannya. Kita tidak dapat membereskan kemarahan sebelum kita mengakui kehadirannya. Kemudian, kita perlu bertanya kepada diri kita, mengapa kita menjadi marah. Apakah itu karena kesombongan kita atau keegoisan kita atau suatu berhala di hati kita yang sedang kita lindungi? Jika ya, kita perlu bertobat tidak hanya dari kemarahan kita tetapi juga dari kesombongan, keegoisan dan penyembahan berhala kita. Selanjutnya kita perlu mengubah sikap kita terhadap orang atau orang-orang yang kata-kata atau tindakan-tindakannya memicu kemarahan kita. Dalam hal ini perkataan yang ditulis Paulus haruslah menjadi penuntun bagi kita bagaimana seharusnya kita membuang amarah tersebut, yaitu : Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian (ay.13). Jika kita mengekspresikan kemarahan kita secara eksternal, kita juga perlu meminta maaf kepada orang-orang yang telah kita lukai dengan kemarahan kita. Akhirnya, kita perlu menyerahkan penyebab dari kemarahan kita kepada Allah dan mohon kepada Tuhan agar Ia memberikan kepada kita kesabaran dan penguasaan diri.
M3 (MELAKUKAN) 1. Selidikilah, hal-hal apa saja yang seringkali menjadi penyebab kemarahan Anda; tuliskanlah hal itu dan carilah upaya untuk mengatasinya. 2. Bereskan kemarahan Anda dengan orang-orang yang pernah menjadi penyebab atau menjadi korban dari kemarahan Anda. Lakukanlah sekarang juga, dan jangan tunda lagi!
M4 (MEMBAGIKAN) Bagikanlah kebenaran firman Tuhan atau pengalaman rohani yang Anda peroleh saat Anda belajar dan mempraktekkan kebenaran firman Tuhan di bulan puasa ini, kepada teman komsel, sahabat rohani, dalam acara persekutuan doa, atau kepada pembimbing rohani Anda!
Ayat Hafalan: Pengkhotbah 7:9 “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.”
Bacaan Alkitab 1 tahun: Yosua 7–9; Lukas 1:21–38
1. Doakan pelaksanaan Doa Puasa dalam rangka Bulan Kesengsaraan mulai tgl 21 Februari s/d 2 April 2010, kiranya Tuhan menolong kita dapat membuang karakter yang tidak baik dan mengenakan karakter Kristus 2. Doakan persiapan “Excellent Servant Camp” (1 s/d 2 April), doakan panitia dan keikutsertaan aktivis gereja 3. Doakan kelas Kambium yang sedang berlangsung, dapat menolong jemaat bertumbuh dan doakan juga kesetiaan peserta untuk mengikutinya sampai akhir April 4. Doakan rencana pembelian tanah untuk pelayanan misi dan pengembangan gereja 5. Doakan perkembangan Kebaktian Kaum Muda, kiranya semakin banyak kaum muda yang dapat bertumbuh melalui wadah ini 6. Doakan bangsa dan Negara, pemerintah yang terpilih dan setiap program kerjanya. 7. Doakan SKKK Bandung, BPC dan jajaran kepala sekolah dan guru-guruserta para siswa yang menghadapi ujian akhir kelulusan, kiranya Tuhan memberi hikmat dapat menyelesaikannya. 8. Berdoa untuk saudara/i yang sedang lemah tubuh : · Samuel Roazen cucu agar pita suaranya dapat tumbuh · Ibu Joyce , pemulihan dari stroke · Bapak Nio Yun On, pemulihan dari stroke · Ibu Yan Yen Ing/mama Cun Cun, pemulihan dari stroke · Ibunda dari Ibu Leng Kim, sakit hernia yang akut · Bapak Teddy , kanker getah bening dan komplikasi · Pdt. Inge Wibowo (GKKK Solo) pemulihan setelah operasi · Ibu Tjong Tjhui Jun, diabet, jantung · Bapak Poi Siang Cun, sakit diabet, ginjal · Michael Ferdinand (SD kelas 2, anak Bp. Johan-Aida), paru-paru · Ibu Lim Pin Nio (Ibu Pipin), stroke · Jodie,anak Bp. Jonatan/cucu dari ibu Lo Fung Cen, kanker limpa · Bp. Chen Ik Kiong pemulihan kesehatan · Bp. Gunadi Tirta, lupus dan jantung · Bp. Chandra Setiawan (Asien), jantung
|