PELITA Vol. 161

8-14 Maret '10

Senin, 8 Maret 2010

Selasa, 9 Maret 2010

Rabu, 10 Maret 2010

Kamis, 11 Maret 2010

Jumat, 12 Maret 2010

Sabtu, 13 Maret 2010

Minggu, 14 Maret 2010

POKOK DOA

 

 

PENGUASAAN DIRI

 

                Pelita kali ini, akan membawa kita merenungkan tentang salah satu unsur dari buah roh yaitu penguasaan diri (Gal.5:23). Penguasaan diri adalah kemampuan atau kesanggupan untuk menguasai diri. Penguasaan diri atau self control dalam bahasa Yunani berasal dari kata ’enkratia’, dari akar kata ’krat’ yang berarti kekuatan atau kuasa (power; control). Enkratia’ berarti seseorang yang memiliki kekuatan secara fisik dan intelektual, juga bisa berarti seseorang yang memiliki kuasa atas orang lain. Enkratia dalam Galatia 5:23 menunjuk kepada penguasaan diri terhadap hal-hal seksual seperti percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala (Gal.5:19-20).

                Melalui Pelita edisi 161 ini, kita akan dituntun untuk membuat suatu pembaharuan dalam karakter kita yang dapat memampukan kita untuk menyelesaikan setiap permasalahan hidup yang ada. Selamat memiliki penguasaan diri. Tuhan memberkati.

 

 

 

RedaksiPELITA

 

Senin, 8 Maret 2010

Matius 4:1-11  
“Penguasaan Diri dalam Pencobaan

 

M1 (MENERIMA)           

Berdoalah, mohon Tuhan menolong kita dapat memahami kelebihan dan kelemahan diri kita sendiri, bersandar kepada Tuhan, menguasai diri dan menang dalam setiap pencobaan.

 

M2 (MERENUNGKAN)

1.         Berapa kalikah Tuhan Yesus dicobai oleh Iblis dalam perikop ini? Sebutkan jenis pencobaan yang dihadapi oleh Tuhan? (3,6,8)

2.         Bagaimanakah Tuhan menghadapi tiap pencobaan? Dengan apakah ia menjawab? (4,7,10)

3.         Apakah yang terjadi dengan Tuhan setelah Ia dicobai? (11)

 

Pengajaran

         Pada zaman kuno, tembok merupakan pertahanan utama kota, sehingga tanpanya, kota akan jadi mangsa empuk bagi musuh. Bagi Nehemia, kabar robohnya tembok Yerusalem menandakan kemusnahan dan akhir dari kota yang disayanginya. Ketika didengarnya kabar itu, ia terduduk dan menangis. Penguasaan diri merupakan tembok pertahanan orang percaya terhadap keinginan-keinginan berdosa yang berjuang melawan jiwanya. Charles Bridges mengamati bahwa orang yang tidak menguasai diri adalah mangsa yang empuk bagi penyerbu. Penguasaan diri mencakup hal ‘berjaga-jaga’ dalam rentang yang jauh lebih luas daripada sekadar menguasai selera dan keinginan tubuh kita. Kita harus menerapkan penguasaan diri dalam hal pikiran, emosi dan perkataan. Paulus berkata, “Aku melatih tubuhku dan menguasainya” (1 Kor. 9:27). Pencobaan seringkali berhubungan erat dengan kecakapan dan kepandaian yang kita miliki. Seseorang yang memiliki kecakapan tertentu akan dicobai melalui kecakapannya supaya ia melarikan diri dari tanggung jawabnya. Orang yang mempunyai kecakapan untuk berbicara, akan dicobai melalui kepandaian berbicara, sehingga ia bisa memberikan berbagai alasan untuk membenarkan tingkah lakunya yang tidak benar. Orang yang memiliki daya imajinasi dan sensitivitas yang tinggi akan mengalami beban pencobaan yang lebih banyak ketimbang orang yang kebal perasaannya. Orang yang memiliki kemampuan berpikir yang besar akan dicobai melalui kemampuan berpikirnya itu. Orang ini akan dicobai untuk memakai pikirannya bagi kepentingan dirinya sendiri dan bukan bagi kepentingan orang lain.

         Iblis tahu kuasa yang dimiliki oleh Tuhan Yesus, oleh sebab itu ia mencari celah agar dapat mencobai Tuhan Yesus. Iblis menggunakan firman Tuhan untuk menjatuhkan Yesus, namun kita melihat bahwa Yesus tidak menggunakannya bagi kepentingan-Nya sendiri. Ia senantiasa berjaga-jaga dengan firman Tuhan, sehingga Ia tidak terkecoh dengan pencobaan dari Iblis. Kita adalah orang yang paling memahami kemampuan, dan kelebihan yang kita miliki. Kemampuan dan kelebihan diri kitalah yang seringkali menjadi titik kelemahan kita; tetapi jika kita mau bersandar kepada Tuhan dan Firman-Nya, serta senantiasa berjaga-jaga dan menguasai diri, maka kita akan keluar sebagai pemenang.

 

M3 (MELAKUKAN)

1.       Tuliskanlah beberapa kecakapan/kelebihan yang Anda miliki; pencobaan apa saja yang paling sering Anda alami; bagaimana Anda menghadapinya (menang atau kalah)!

2.       Buatlah suatu “tekad” bahwa Anda dapat menang dari pencobaan-pencobaan tersebut.

 

M4 (MEMBAGIKAN)

Bagikanlah berkat dan tekad Anda kepada keluarga dan anggota komsel, serta ajaklah mereka untuk saling mendoakan.       

 

Ayat Hafalan:

1 Korintus 9:25a  “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal.

 

Bacaan Alkitab 1 tahun: Ulangan 5–7 ; Markus 11:1–18

 

 

 

 TOP

 

Selasa, 9 Maret 2010

Matius 26:47-56  
”Penguasaan Diri dalam Kemanusiaan”

 

M1 (MENERIMA)            

Mohonlah kepada Tuhan supaya Ia memberikan kita kekuatan untuk dapat mengendalikan dan menguasai diri  dalam setiap keadaan sehingga kita dapat mengatasi setiap masalah yang ada.

 

M2 (MERENUNGKAN)

1.       Siapa yang datang bersama Yudas untuk menangkap Yesus? Siapakah yang menyuruh mereka dan senjata apa yang mereka bawa untuk menangkap Yesus? (47)

2.       Dengan cara apa, Yudas menyerahkan Yesus untuk ditangkap? (48-49)

3.       Apa yang dilakukan Petrus untuk membela Yesus? (51).  Apa yang Yesus katakan kepada Petrus ketika melihat sikapnya tersebut? (52-54)

4.       Apa yang dikatakan Yesus kepada rombongan orang yang menangkapnya? (55)

 

Pengajaran

Istilah ”Penguasaaan Diri” adalah kemampuan atau kesanggupan untuk menguasai diri (KBBI). Penguasaan diri atau self control dapat juga disebut ”menahan diri atau mengekang diri”. Dari perikop firman Tuhan hari ini, kita dapat melihat hal yang mengagumkan dalam diri Yesus yaitu ketenangan-Nya yang mutlak setelah peristiwa pergumulannya di Getsemani. Pada hari-hari itu, bahkan pada saat penangkapan-Nya, Yesus kelihatan sangat mengontrol diri-Nya. Ketika Yesus ditangkap, Yesus mengatakan bahwa Ia dapat saja memanggil sepasukan malaikat, tetapi Yesus tidak melakukannya (ay.53). Ketika Yesus diperhadapkan dengan situasi yang sulit tersebut, Yesus menghadapinya dengan tenang dan Ia sama sekali tidak menunjukkan suatu sikap emosi yang berlebihan. Sehingga ketika Yesus melihat Petrus membelanya dengan pedang, Yesus justru menegurnya dan menyatakan bahwa Ia bisa saja melakukan hal yang sama bahkan lebih lagi dari itu. Tetapi justru Yesus memilih cara yang sebaliknya dimana Ia tidak menghadapi situasi tersebut dengan senjata, sehingga hal itu sesuai dengan apa yang tertulis dalam Kitab Suci dan yang merupakan kehendak Bapa atas diri-Nya (Mat. 26:39, 42, 54).

                Dari sikap Yesus tersebut, kita dapat belajar bahwa penguasaan diri sangat penting ketika keadaan yang sulit datang menghimpit hidup kita. Ketika kita menghadapi situasi yang sulit dengan penguasaan diri, maka kita dapat mengatasi masalah yang ada dengan baik dan benar. Penguasaan diri berarti menguasai diri dalam seluruh aspek hidup yang terwujud dalam perkataan, tingkah laku dan pikiran. Dan penguasaan diri adalah buah Roh yang dihasilkan oleh Roh Kudus yang bekerja dalam diri orang percaya. Karena itu, melalui teladan penguasaan diri Yesus dalam kemanusiaan-Nya, kita dapat belajar bahwa Yesus dapat mengatasi masalah-Nya sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan penguasaan diri, Yesus mampu menggenapi kehendak Tuhan dalam diri-Nya.

 

M3 (MELAKUKAN)

Belajarlah untuk menguasai diri Anda ketika Anda menghadapi setiap pergumulan dan masalah yang sulit dalam hidup Anda. Mulailah melakukannya hari ini!

 

M4 (MEMBAGIKAN)

Bagikan berkat dari M3 yang Anda lakukan hari ini dan ajaklah teman-teman komsel Anda untuk melakukannya.

 

Ayat Hafalan:

1 Korintus 9:25a  “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal.”

 

Bacaan Alkitab 1 tahun: Ulangan 8–10; Markus 11:19–33

 

 

 TOP

 

 

Rabu , 10 Maret 2010
Roma 7:13-26 
”Penguasaan Diri dalam Pertempuran”

 

M1 (MENERIMA)

Berdoalah mohon pada Tuhan untuk memberikan kekuatan agar kita mampu memenangkan pertempuran yang ada didalam diri kita.

 

M2 (MERENUNGKAN)

1.       Apakah sifat Taurat dan apakah sifat yang ada dalam diri manusia? (14 )

2.       Perbuatan apakah yang dilakukan manusia yang bersifat daging? (15-16)

3.       Apakah yang menyebabkan manusia melakukan perbuatan daging? (17-20)

4.       Bagaimana caranya manusia mengatasi perbuatan daging? (24-25)

 

Pengajaran

                Perikop ini menjelaskan tentang keadaan manusia yang mengalami pergumulan diantara hukum Taurat dan dosa. Paulus menyatakan bahwa ia tahu apa yang baik dan ingin melakukannya, tetapi ia tidak melakukannya; ia tahu apa yang jahat dan yang tidak mau ia lakukan, namun justru itu yang ia lakukan. Ia merasakan dirinya sendiri seperti orang yang memiliki dua kepribadian. Ia dihantui oleh perasaan frustrasi; keinginannya untuk melakukan yang baik, gagal untuk dilakukannya. Pada dasarnya manusia mengalami pergumulan di dalam dirinya antara keinginan untuk melakukan apa yang baik dan yang jahat. Tetapi orang Yahudi mengakui, bahwa tak seorangpun perlu mengalah pada dorongan jahat itu. Semua itu adalah masalah pilihan. Ada tiga hal yang dapat kita pelajari dari bagian ini, yaitu:

o   Menyatakan ketidaksempurnaan pengetahuan manusia. Apabila kita mengetahui hal yang baik dan dapat melakukannya, kehidupan akan menjadi lebih mudah. Tetapi pengetahuan tidak dengan sendirinya menjadikan manusia baik, sama halnya dengan perjalanan hidup. Kita bisa mengetahui dengan tepat bagaimana permainan golf tetapi belum tentu kita bisa memainkannya. Mungkin kita tahu bagaimana seharusnya bertindak dalam setiap situasi, tetapi sulit untuk dapat melakukannya.

o   Menyatakan ketidakmampuan ketetapan hati manusia. Di dalam hakekat manusia, ada kelemahan dasar dalam hal kemauan; kemauan dihadapkan dengan masalah-masalah, kesulitan-kesulitan, pertentangan dan kegagalan. Suatu ketika, Petrus menyatakan kemauan yang besar, ”Sekalipun aku harus mati bersama-sama dengan Engkau, aku takkan menyangkal  Engkau“ (Mat. 26:35). Namun ia gagal menghadapi hal itu.

o   Menyatakan keterbatasan diagnosa pengamatan. Paulus mengetahui  dengan jelas apa yang salah, tetapi ia tidak mampu untuk memperbaikinya. Ia seperti seorang dokter yang dapat mendiagnosa dengan tepat suatu penyakit, tetapi ia tidak mampu untuk menentukan pengobatannya.

 

Tuhan Yesus adalah satu-satunya manusia  yang tidak hanya mengetahui apa yang salah , tetapi juga yang dapat memperbaiki yang salah. Bukanlah kritik yang Ia tawarkan, melainkan pertolongan. Karena hanyalah dengan mengenal Kristus, kita dapat melakukan apa yang seharusnya kita lakukan dan kita akan dikuatkan didalam Dia. Oleh karena itu bersandarlah pada-Nya, dan jangan pada kemampuan diri sendiri.

 

M3 (MELAKUKAN)

Renungkanlah kebaikan Tuhan kepada kita, ambillah sikap sebelum kita tergoda lebih jauh akan dosa.

 

M4 (MEMBAGIKAN)

Bagikanlah berkat firman Tuhan hari ini kepada teman dan saudara yang mengalami pergumulan yang sama melawan kedagingan mereka.

Ayat Hafalan:

1 Korintus 9:25a  “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal.”

 

Bacaan Alkitab 1 tahun: Ulangan 11–13 ; Markus 12:1–27

 

 

 TOP

 

Kamis, 11 Maret 2010

Roma 12:1-8
”Penguasaan Diri dalam Pemikiran”

 

M1 (MENERIMA)           

Berdoalah agar Tuhan menolong Anda dapat menguasai apa pun yang Anda pikirkan.

 

M2 (MERENUNGKAN)

1.  Apakah nasihat Paulus kepada jemaat Roma? (1a).  Mengapa? (1b)

2.  Mengapa mereka tidak boleh menjadi serupa dengan dunia dan harus berubah ? (2b)

3.  Bagaimanakah cara mereka dapat menguasai diri? (3b)

4.  Bagaimana seharusnya mereka menggunakan karunia Allah? (6-8)

 

Pengajaran

Roma 12 merupakan awal bagian yang praktis dari kehidupan iman Kristen di dalam pasal 12-16. Paulus memulainya dengan suatu “tuntutan” untuk kita mempunyai “ibadah yang sejati” (true worship). Jika kita menelusurinya, jelas yang dimaksud oleh Paulus dengan ibadah yang sejati adalah “mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah dan yang tidak mengikuti dunia” (ay.1-2). Di dalamnya ada unsur kehidupan yang praktis, yang bersifat kudus dan yang berelasi penuh dengan ketaatan kepada Allah. Inilah spiritualitas yang sejati. Penguasaan diri adalah ciri karakter hakiki, seorang yang memiliki spritualitas sejati yang memampukan dia taat pada perkataan Tuhan Yesus. Lukas 9:23 "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Mustahil menjadi pengikut-Nya tanpa tekun memperhatikan anugerah pengusaaan diri dalam hidup kita. Kata yang dipakai untuk ’penguasaan diri’ oleh Alkitab versi New International (NIV) adalah  self control’; kata ini  dipakai untuk menerjemahkan dua kata asli yang berbeda:  (a) digunakan Paulus dalam daftar buah Roh, terutama merujuk kepada sikap tidak berlebihan atau bersahaja dalam memuaskan keinginanan dan selera kita; (b) menunjukkan kewarasan pikiran atau pertimbangan sehat. Dari dua pengertian ini kita akan lebih mengerti apa yang dimaksud Paulus dalam ayat 3b, “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”  Penguasaan diri sangat berhubungan dengan penguasaan pikiran.

                        Jadi yang dimaksud Paulus dalam pengajarannya (Rm.12:1-8), bahwa ibadah yang benar adalah pada saat kita dapat mempersembahkan hidup kita seutuhnya untuk Tuhan, baik tubuh dan seluruh pikiran kita, dikontrol oleh Tuhan sehingga kita tidak mengikuti/serupa dengan dunia ini. Ketika kita dapat mengontrol pikiran kita, kita dapat berpikir tenang dan sehat untuk menguasai keinginan, selera, emosi dan tindakan kita. Pikiran tenang memampukan kita untuk menentukan apa yang harus kita lakukan sesuai dengan karunia yang Tuhan berikan (ay. 6-8). Pikiran sehat adalah penting untuk menjalankan penguasaan diri. Kiranya Tuhan menolong kita memiliki spritualitas sejati, saat kita dapat menguasai dan mengendalikan pikiran kita.

 

M3 (MELAKUKAN)                                                                                                                                                                       Renungkan ’Roma 12:3’  dalam versi Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari: “Janganlah merasa diri lebih tinggi dari yang sebenarnya. Hendaknya kalian menilai keadaan dirimu dengan rendah hati; masing-masing menilai dirinya menurut kemampuan yang diberikan Allah kepadanya oleh karena ia percaya kepada Yesus.”   Latihlah pikiran Anda untuk memikirkan hal-hal yang sederhana!

 

M4 (MEMBAGIKAN)                  
Bagikanlah berkat Firman Tuhan hari ini kepada teman-teman Anda.

Ayat Hafalan:

1 Korintus 9:25a  “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal.”

 

Bacaan Alkitab 1 tahun: Ulangan 14–16 ; Markus 12:28–44

 

 

 TOP

 

Jumat, 12 Maret 2010

1 Korintus 9:24-27
”Latihan Penguasaan Diri”

 

M1 (MENERIMA)           

Berdoalah agar Tuhan menolong Anda terus melatih diri untuk dapat mampu menguasai diri.

 

M2 (MERENUNGKAN)

1.       Seperti apakah seorang yang berusaha menguasai diri? (24)

2.       Bagaimana caranya seorang dapat memperoleh mahkota yang abadi? (25)

3.       Apa yang dilakukan oleh Paulus? (26-27a).  Apakah tujuan Paulus? (27b)

 

Pengajaran

Seperti kebanyakan orang Korintus, Paulus adalah seorang penggemar olahraga (sport). Paulus sering menggunakan istilah atletik dalam surat-surat yang ditulisnya. Paulus menggunakan gambaran dari acara ’pertandingan’ yang sudah dikenal oleh setiap orang Korintus, untuk membantu dia menjelaskan hubungan antara hal berdisplin melatih diri dan hasil yang memuaskan. Namanya Isthmian Games; yang dipertandingkan di antaranya adalah: lari, gulat dan tinju. Pertandingan ini terbuka bagi siapa saja dan setiap peserta akan berlari. Tentu saja tujuan ikut perlombaan lari adalah menjadi orang pertama yang mencapai garis akhir, menang dan meraih hadiah! Ini bukan sekedar soal mengenakan sepatu lari, baju sport atau menikmati pemandangan sekeliling, tetapi sebagaimana dinyatakan Paulus ’larilah  begitu rupa’ (ay. 24b). Paulus berharap bukan sekedar berlari, tetapi berlari dengan tujuan untuk menjadi pemenang. Apa rahasianya untuk dapat menang? Inilah rahasianya: Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal (ay. 25a). Mereka yang berlari untuk menang, berlatih mengendalikan emosi, keinginan dan dorongan yang timbul dari dalam dirinya. Mereka tidak akan melakukan sesuatu apa pun yang akan meminimalkan penampilannya di arena pertandingan. Mereka mempertimbangkan setiap konsekuensi dari setiap dorongan yang timbul dari dalam dirinya – apakah akan mendukung atau menghambat mereka mencapai tujuan pertandingan, yaitu meraih mahkota. Meskipun penghargaan dalam pertandingan berlari itu menyenangkan, tetapi sesungguhnya sifatnya adalah sementara dan fana, dibandingkan dengan  mahkota abadi (ay. 25b) yang adalah hadiah yang dapat diperoleh jika seseorang berhasil mengendalikan diri. Dan itulah fokus Paulus untuk mendapat mahkota abadi, sehingga ia tidak sembarangan meninju dan memukul (ay. 26).

Paulus tidak saja menasihati agar kita melatih diri untuk mengendalikan diri, tetapi ia memberikan contoh dan menjadi teladan dalam hal itu. Dia mengatakan “Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya (ay. 27). Tujuan dari ’melatih’ – (bhs. Yunani: meninju di bawah mata – membuat wajah babak belur/berlatih sampai mati untuk jadi pemenang) adalah untuk dapat ‘menguasainya’. Bagaimanakah dengan hidup kita? Maukah kita melatih diri supaya kita dapat menguasainya dan jadi pemenang? Tuhan akan melakukan bagian-Nya dan kita melakukan bagian kita, supaya kita pada akhirnya tidak menjadi seperti atletik yang didiskualifikasi/ditolak karena kita telah menguasai diri dan jadi pemenang  (ay. 27b). Tuhan pasti menolong kita.

 

M3 (MELAKUKAN)

Tuliskan, doakan dan latihlah untuk menguasai hal-hal  yang masih susah untuk dikendalikan dalam hidup Anda: emosi/keinginan daging/ ................................................................................................... ................................................................................................................................................................

M4 (MEMBAGIKAN)            

Bagikanlah berkat Firman Tuhan hari ini kepada teman-teman Anda dan saling mengingatkan untuk terus melatih diri untuk menguasainya dan jadi pemenang.

Ayat Hafalan:

1 Korintus 9:25a  “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal.”

 

Bacaan Alkitab 1 tahun: Ulangan 17–19; Markus 13:1–20

 

 

TOP

 

 

Sabtu, 13 Maret 2010

Galatia 5:16-26 
”Penguasaan Diri oleh Roh”

 

M1 (MENERIMA)           

Berdoalah agar kita mau belajar untuk menguasai diri dengan mengandalkan pertolongan Roh Kudus.

 

M2 (MERENUNGKAN)

1.       Apa yang menyebabkan kita tidak melakukan apa yang kita kehendaki? (17)

2.       Apa yang harus kita lakukan supaya kita tidak hidup di bawah hukum Taurat? (18)

3.       Apa yang terjadi pada setiap orang yang menjadi milik Kristus Yesus? (24, 25)

 

Pengajaran

                Menurut Paulus, kebebasan Kristen bukanlah kebebasan untuk mengikuti kata hati yang bersifat lahiriah, melainkan kebebasan untuk berjalan dalam kehidupan Roh. Paulus menasihatkan hal ini karena ia menyadari bahwa dalam kehidupan ini, kita seringkali diperhadapkan dengan perjuangan antara keinginan daging dan keinginan Roh. Yang dimaksud Paulus dengan “daging” adalah tabiat lama – cara pikir yang sudah mendarah daging – cara pikir yang membuat kita berdosa. Daging ini sifatnya melayani diri sendiri, tidak percaya; daging adalah cara pikir yang tidak melibatkan Tuhan. Sifatnya menjauh dari Tuhan; prioritasnya mementingkan diri sendiri. Inilah pola hidup yang diwariskan kepada kita ketika kita lahir, kemudian diajarkan dunia ketika kita bertumbuh dewasa. Yang lebih buruk lagi, pola hidup ini begitu alamiah bagi kita, bagai bernafas. Meski Roh Kudus ada didalam kita, daging juga ada di dalam kita, dan daging tidak pernah menjadi lebih baik; daging selalu menuntut untuk dipuaskan. Di sisi lain, ketika kita percaya kepada Allah, kita mempunyai Roh Allah di dalam diri kita. Menurut Galatia 5:16, Roh Allah adalah satu-satunya harapan bagi kita untuk tidak menjadi budak kedagingan. Pekerjaan-Nya mencipta ulang di dalam diri kita serta memberi kesempatan kepada Allah untuk melakukan kehendak-Nya. Dengan demikian kita memiliki fondasi untuk hidup menurut Roh dan bukan menuruti keinginan daging. Jadi, meskipun kita sudah percaya Tuhan, kita tetap tidak kebal terhadap dosa, kita masih bisa jatuh dalam dosa yang menggoda kita, karena tabiat lama masih ada di dalam diri kita.

Akan tetapi, kita bersyukur karena kita memiliki Roh Allah yang memberi kuasa kepada kita dan sanggup menyucikan dosa-dosa kita bagaimana pun parahnya, bahkan sanggup menghasilkan buah Roh dengan sembilan kualitas (Gal. 5:22-23). Hanya Roh Kuduslah yang dapat menolong kita untuk mengalami kemenangan atas hal-hal yang tidak kita sukai dalam diri kita. Tabiat baru mampu mengungguli tabiat lama jika kita mempersilahkan Roh Kudus memimpin pikiran dan hati kita. Hanya dengan kuasa Roh Kudus yang mengendalikan kita, kita akan berhasil menaklukkan dorongan kedagingan yang sangat menggoda itu. Hanya Roh Kuduslah yang dapat memberi kita kekuatan yang tidak ada di dalam diri kita. Sebagai orang-orang percaya yang hidup di zaman yang penuh dengan tantangan, godaan dan pencobaan yang dapat menjatuhkan kita ke dalam kedagingan kita, marilah kita senantiasa bergantung pada kuasa dan pertolongan Roh Kudus yang dapat memampukan kita untuk mengatasi segala tantangan tersebut.

 

M3 (MELAKUKAN)

Daftarkanlah kesulitan-kesulitan yang sering Anda hadapi dalam upaya untuk mengendalikan diri Anda berkenaan dengan lidah, makanan, emosi, pikiran dan nafsu sex. Akuilah semua itu di hadapan Tuhan dan mintalah Roh Kudus menolong Anda untuk mengatasi hal-hal tersebut mulai dari saat ini!

M4 (MEMBAGIKAN)

Bagikan berkat-berkat dan pengalaman rohani yang Anda peroleh ketika Anda mempelajari dan melakukan bagian firman Tuhan ini. Bagikan juga pergumulan dan tantangan yang Anda hadapi ketika berusaha untuk mengendalikan kedagingan Anda. Mintalah sahabat rohani atau rekan komsel Anda untuk mendukung Anda dalam doa!

 

Ayat Hafalan:

1 Korintus 9:25a  “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal.”

 

Bacaan Alkitab 1 tahun: Ulangan 20–22 ; Markus 13:21–37

 

 

 TOP

 

Minggu, 14 Maret 2010

Ibrani 12:1-4  
”Penguasaan Diri dalam Ketekunan”

 

M1 (MENERIMA)            

Berdoalah agar Tuhan menolong kita untuk menguasai diri dalam menghadapi segala tantangan dan pencobaan sehingga kita bisa tetap bertekun dalam iman kita kepada Tuhan.

 

M2 (MERENUNGKAN)

1.       Apakah yang harus kita lakukan dalam pertandingan iman kita? (1)

2.       Siapakah yang seharusnya menjadi teladan dalam perjalanan iman kita? Mengapa? (2)

3.       Bagaimana supaya kita tidak menjadi lemah dan putus asa? (3)

 

Pengajaran

            Setelah dengan panjang lebar pada pasal 11 penulis Ibrani menerangkan para saksi iman yang mempunyai kesaksian yang indah dan hebat, dan bagaimana iman mereka harus dikonfirmasikan dengan penderitaan atau ujian yang berat akan tetapi mereka tetap bertahan,  dalam bagian ini penulis Ibrani melukiskan perjalanan hidup orang percaya sebagai suatu “perlombaan” untuk mencapai garis akhir. Dan dalam menjalani perjalanan iman ini, kita mempunyai banyak saksi. Itulah sebabnya teks kita mengatakan “bagaikan awan” yang mengelilingi kita. Saksi-saksi ini memperhatikan dan mengawasi kita agar kita tidak menjadi lemah dan putus asa. Dan kita harus membuang, melepaskan beban dan dosa yang merintangi atau menyusahkan kita. Dr. Robertson berkata, ”bagi orang Kristen penerima surat Ibrani, tantangan yang harus dihadapi adalah dosa murtad dari Kristus, tapi bagi kita dosa itu adalah dosa lain yang sering kita hadapi, tersembunyi dalam relung hati yang dalam, dalam tabiat dan keadaan kita. Kita harus berani membuang segala dosa yang menghambat dan menghalangi kita, dan memfokuskan diri untuk menyelesaikan perjalanan iman kita. Kita harus mengarahkan segala perhatian dan pikiran kita untuk menyelesaikan perjalanan iman ini dan mencapai garis finish dengan kemenangan. Oleh sebab  itu dalam perlombaan iman ini, mata kita harus “tertuju kepada Yesus”. Maksudnya adalah segenap perhatian kita tertuju kepada apa yang  telah dan sedang Tuhan Yesus lakukan bagi hidup kita. Kristuslah yang menjadi fokus hidup kita, bukan objek yang lain. Dan untuk melakukan hal itu diperlukan keberanian dan kemampuan untuk menguasai diri. Karena dengan menguasai diri kita memiliki tembok pertahanan terhadap keinginan-keinginan berdosa yang berjuang melawan kita. 

                Kita perlu menguasai diri dalam menjalani dan menyelesaikan perjalanan iman kita karena dalam kehidupan ini kita sedang terus berperang melawan keinginan-keinginan berdosa kita. Segala keinginan itu demikian berbahaya karena berdiam di dalam hati kita sendiri. Pencobaan-pencobaan dari luar tidak akan bergitu berbahaya apabila tidak bersekutu dengan keinginan yang ada di dalam hati kita. Oleh sebab itu marilah kita bersama-sama belajar untuk menguasai diri dalam menghadapi segala tantangan dan pencobaan yang selalu ada di sekitar kita sehingga kita bisa terus bertekun untuk menyelesaikan perjalanan iman kita di bumi ini dan mencapai garis akhir sebagai pemenang.

 

M3 (MELAKUKAN)

Tuliskanlah tiga tantangan/pencobaan/godaan yang paling sulit Anda atasi dan yang seringkali membuat Anda rela melanggar firman Tuhan. Lakukanlah dengan cara yang Anda pikirkan dapat mengatasi hal itu, supaya perjalanan iman dan kesaksian Anda sebagai orang percaya tidak terhambat.

 

M4 (MEMBAGIKAN)

Bagikanlah berkat firman Tuhan hari ini dan pengalaman Anda ketika Anda melakukan M3. Bagikanlah kepada sahabat rohani atau teman komsel Anda! Mintalah mereka mendoakan Anda dalam melaksanakan komitmen Anda!

 

Ayat Hafalan:

1 Korintus 9:25a  “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal.”

 

Bacaan Alkitab 1 tahun: Ulangan 23–25; Markus 14:1–26

 

 

 TOP

 

 

Pokok Doa

 

1.       Doakan pelaksanaan Doa Puasa dalam rangka Bulan Kesengsaraan  mulai tgl 21 Februari s/d 2 April 2010

2.        Doakan persiapan “Excellent Servant Camp” (1 s/d 2 April), doakan panitia dan keikutsertaan aktivis gereja

3.         Doakan anggota keluarga yang belum percaya dan kerinduan dan keberanian kita untuk memberitakan Injil kepada mereka

4.         Doakan kelas Kambium yang sedang berlangsung, dapat menolong jemaat bertumbuh dan doakan juga kesetiaan peserta untuk mengikutinya.

5.         Doakan studi Sdr. Andrea dan Randy di SAAT, dan penyelesaian akhir skripsi Sdr. Reggy Sapetu (mahasiswa SAAT yang akan praktek satu tahun).

6.         Doakan bencana banjir: Hujan lebat yang mengguyur beberapa kota di Indonesida, menimbulkan banjir yang cukup meresahkan masyarakat (Dayeuh Kolot-Bale Endah) .  Doakan agar masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang bermukim di wilayah yang rawan terhadap bencana banjir, dapat bersikap lebih waspada dalam menghadapi bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi (di Ciwidei)

7.             Berdoa untuk saudara/i yang sedang lemah tubuh :

·   Samuel Roazen cucu agar pita suaranya dapat tumbuh

·                           Ibu Joyce , pemulihan dari stroke

·                           Bapak Nio Yun On, pemulihan dari stroke

·                           Ibu Yan Yen Ing/mama Cun Cun, pemulihan dari stroke

·                           Ibu Lim Pin Nio (Ibu Pipin), stroke

·   Ibunda dari Ibu Leng Kim, sakit hernia yang akut

·         Bapak Teddy , kanker getah bening dan komplikasi

·  Pdt. Inge Wibowo (GKKK Solo) pemulihan setelah operasi

·  Ibu Tjong Tjhui Jun, diabet, jantung

·  Bapak Poi Siang Cun, sakit diabet, ginjal

·  Michael Ferdinand (SD kelas 2, anak Bp. Johan-Aida), paru-paru

·  Jodie,anak Bp. Jonatan/cucu dari ibu Lo Fung Cen, kanker limpa

·  Bp. Chen Ik Kiong pemulihan kesehatan

·  Bp. Gunadi Tirta, lupus dan jantung

·  Bp. Chandra Setiawan (Asien), jantung

·  Papa dari Sdr. Lily/Tiongki di Palembang sakit amnesia

 

 

 

 

TOP

   

Hit Counter